Kamis, 25 September 2014

Tipe-tipe Organisasi dan Struktur Organisasi


Tipe Organisasi
Secara garis besar organisasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu organisasi formal dan organisasi informal. Pembagian tersebut tergantung pada tingkat atau derajat mereka terstruktur. Namur dalam kenyataannya tidak ada sebuah organisasi formal maupun informal yang sempurna.
  • Organisasi formal memiliki suatu struktur yang terumuskan dengan baik, yang menerangkan hubungan-hubungan otoritasnya, kekuasaan, akuntabilitas dan tanggung jawabnya. Struktur yang ada juga menerangkan bagaimana bentuk saluran-saluran melalui apa komunikasi berlangsung. Kemudian menunjukkan tugas-tugas terspesifikasi bagi masing-masing anggotanya. Hierarki sasaran organisasi formal dinyatakan secara eksplisit. Status, prestise, imbalan, pangkat dan jabatan, serta prasarat lainya terurutkan dengan baik dan terkendali. Selain itu organisasi formal tahan lama dan mereka terencana dan mengingat bahwa ditekankan mereka beraturan, maka mereka relatif bersifat tidak fleksibel. Contoh organisasi formal ádalah perusahaan besar, badan-badan pemerintah, dan universitas-universitas (J Winardi, 2003:9).
  • organisasi informal Keanggotaan pada organisasi-organisasi informal dapat dicapai baik secara sadar maupun tidak sadar, dan kerap kali sulit untuk menentukan waktu eksak seseorang menjadi anggota organisasi tersebut. Sifat eksak hubungan antar anggota dan bahkan tujuan organisasi yang bersangkutan tidak terspesifikasi. Contoh organisasi informal adalah pertemuan tidak resmi seperti makan malam bersama. Organisasi informal dapat dialihkan menjadi organisasi formal apabila hubungan didalamnya dan kegiatan yang dilakukan terstruktur dan terumuskan. Selain itu, organisasi juga dibedakan menjadi organisasi primer dan organisasi sekunder menurut Hicks:
Mungkin setiap pengusaha ataupun perusahan mempunyai organisasi. Organisasi ini sendiri sangat penting bagi pemilik perusahaan yang di antara lain meliputi:
1.       Organisasi Berdasarkan Tujuannya

·         Profit Oriented Organization
Tujuan organisasi jenis ini adalah untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Manfaat yang di dapat dari suatu perusahaan yang menganut jenis organisasi ini hanya untuk faktor internal. Artinya, hanya orang-orang yang bekerja sama dengan perusahaan tersebut yang akan memperoleh manfaatnya.

·         Non Profit Oriented Organization (Organisasi Sosial)
Tujuan organisasi jenis ini tidak untuk mencari keuntungan. Tujuan utama dari organisasi jenis ini adalah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. dalam hal ini, masyarakatlah yang memperoleh manfaatnya. Organisasi sosial terbentuk dari norma-norma yang dianggap penting dalam hidup bermasyarakat. Terbentuknya organisasi sosial berawal dari individu yang saling membutuhkan, kemudian timbul aturan-aturan.

2.       Organisasi Berdasarkan Tipe atau Bentuknya

v  Organisasi Garis (Line Organization)
v  Organisasi Garis dan Staf (Line and Staff Organization)
v  Organisasi Fungsional (Functional Organization)
v  Organisasi Panitia (Commit Organization)

1) Organisasi Garis

Organisasi Garis adalah tipe organisasi yang tertua dan paling sederhana. Dalam organisasi garis, tugas-tugas perencanaan, pengendalian dan pengawasan berada satu tangan garis kewenangan (line authority) langsung dari pimpinan kepada bawahan. Bentuk organisasi diciptakan oleh Henry Fayol

Ciri-ciri organisasi garis adalah:
  1. Tujuan organisasi masih sederhana
  2. Organisasinya kecil
  3. Jumlah karyawannya sedikit
  4. Pemimpin dan semua karyawan saling mengenal dan dapat berhubungan setiap hari kerja
  5. Hubungan antara pimpinan dan karyawan bersifat langsung
  6. Tingkat spesialisasi begitu juga alat-alat yang diperlukan tidak begitu tinggi dan tidak beraneka ragam


2) Organisasi Garis dan Staf

Tipe organisasi garis dan staf pada umumnya digunakan untuk organsasi yang besar. Daerah kerjanya luas dan mempunyai bidang-bidang tugas yang beraneka ragam serta rumit. Bentuk ini diciptakan oleh Harrington Emerson.

Ciri-ciri organisasi garis dan staf adalah:
  1. Organisasinya besar dan bersifat kompleks
  2. Jumlah karyawan banyak
  3. Daerah kerjanya luas
  4. Hubungan kerja yang bersifat langsung tidak mungkin lagi
  5. Pimpinan begitu pula sesama karyawan tidak lagi semuanya saling mengenal
  6. Spesialisasi yang beraneka ragam diperlukan dan digunakan secara maksimal

3) Organisasi Fungsional


Organisasi fungsional pada umumnya digunakan dalam perusahaan-perusahaan yang pembidang tugasnya dapat digriskan secara tegas, umpamanya unit produksi, unit pemasaran, unit keuangan, dan lain-lain yang walaupun saling bersangkut-paut namun bidang kegiatannya jelas berbeda. Bentuk ini dikembangkan oleh FW Taylor.


Ciri-ciri organisasi fungsional antara lain adalah:
  1. Pembidangan tugas secara tegas dan jelas dapat dibedakan
  2. Dalam melaksanakan tugas tidak banyak memerlukan koordinasi terutama pada tingkat pelaksanaan bawahan karena bidang tugasnya sudah tegas dan jelas digariskan. Dalam organisasi fungsional, koordinasi dititikberatkan pada eselon atasan
  3. Pembagian unit-unit organisasi didasarkan pada spesialisasi tugas
  4. Para direktur mempunyai wewenang komando terhadap unit-unit yang berada dibawahnya atas namanya sendiri, tidak perlu atas nama direktur utama

4) Organisasi Panitia

Tipe organisasi panitia pada umumnya dibentuk dalam waktu yang terbatas untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu,

Ciri-ciri organisasi panitia antara lain adalah:
  1. Tugasnya tertentu dan jangka waktu berlakunya terbatas
  2. Seluruh unsur pimpinan duduk dalam panitia baik sebagai ketua maupun sebagai anggota
  3. Tugas kepemimpinan dilaksanakan secara kolektif, oleh sebab itu tanggung jawabpun secara kolektif pula
  4. Semua anggota pimpinan mempunyai hak, wewenang dan tanggung jawab yang pada umumnya sama
  5. Para pelaksana dikelompokkan menurut bidang dan tugas tertentun yang harus dilaksanakan dalam bentuk tugas (task force)

Struktur organisasi
Struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun Organisasi adalah suatu wadah berkumpulnya minimal dua orang untuk mencapai sebuah tujuan.
Struktur Organisasi adalah Suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian baik secara posisi maupun tugas yang ada pada perusahaaan dalam menjalin kegiatan operasional untuk mencapai tujuan


KEPEMIMPINAN


TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN
Sebelum mengenal tentang tipe-tipe kepemimpinan mari kita bahas terlebih dahulu kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
Kepemimpinan sendiri memiliki beberapa tipe/gaya diantaranya :
1.      Kepemimpinan gaya demokratis
Kepemimpinan gaya demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan. Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi. Pemimpin menempatkan dirinya sebagai pengontrol, pengatur dan pengawas dari organisasi tersebut dengan tidak menghalangi hak-hak bawahannya untuk berpendapat. Dia juga berfungsi sebagai penghubung antar departemen dalam suatu organisasi.
Gaya kepemimpinan demokratis berciri:
A.    Wewenang pimpinan tidak mutlak
Yaitu keputusan pimpinan bisa dipengaruhi oleh masukan dari bawahan, bukan sebagai bentuk interferensi, dalam hal ini lebih ditekankan dari asas musyawarah
  1. Pimpinan melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan
    Tidak semua keputusan bergantung pada pimpinan semata. Bawahan memiliki wewenang untuk membuat keputusan, namun masih berada dalam batas sewajarnya
  2. Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
    Setiap keputusan yang diambil tidak hanya berasal dari pimpinan mutlak, namun telah dimusyawarahkan terlebih dahulu bersama bawahannya
  3. Kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
  4. Komunikasi berlangsung timbal balik
    Komunikasi antara pimpinan dan bawahan berlangsung dengan baik, tanpa adanya rasa takut atau canggung karena jabatan
  5. Pengawasan dilakukan secara wajar
    Pemimpin tidak melakukan pengawasan kegiatan secara over atau over protective, sehingga tidak ada tekanan pada bawahan saat melakukan kegiatannya, bawahan pun menjunjung tinggi kepercayaan yang diberikan atasannya
  6. Prakarsa datang dari pimpinan maupun bawahan
    Pemrakarsa dari suatu kegiatan yang bermanfaat bagi organisasi tersebut tidak hanya berasal dari pimpinan, bawahan pun diberikan hak yang seluas-luasnya untuk memprakarsai sesuatu yang berdampak positif bagi organisasi tersebut
  7. Banyak kesempatan bagi bawahan untuk mengeluarkan pendapat
    Bawahan bebas untuk berpendapat sesuai dengan asas demokrasi
  8. Tugas diberikan bersifat permintaan
    Tugas yang diberikan pimpinan bisa berasal dari permintaan bawahan yang tentunya berdampak positif bagi organisasi tersebut
  9. Pujian dan kritik seimbang
    Pimpinan dan bawahan tidak selalu saling memuji atau mengkritik, kedua-duanya berjalan seimbang sesuai dengan kebutuhan organisasi tersebut
  10. Pimpinan mendorong prestasi bawahan
  11. Kesetiaan bawahan secara wajar
    Bawahan tidak bersifat sebagai budak yang selalu manut pada atasannya, namun bawahan tetap memiliki rasa hormat yang tinggi pada atasannya
  12. Memperhatikan perasaan bawahan
    Pemimpin bersikap mengayomi kepada bawahan, sehingga pemimpin mengerti apa masalah yang ada pada bawahan, sehingga pemimpin bisa mengambil kebijakan dengan segera
  13. Suasana saling percaya, menghormati dan menghargai
    Suasana yang selalu harmonis dalam lingkungan organisasi
  14. Tanggung jawab dipikul bersama
    Kelebihan yang paling utama, yaitu saling bekerja sama dalam mencapai tujuan organisasi

2.      Kepemimpinan gaya Paternalistik
Kepemimpinan gaya paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut:
A.     Mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan
B.     Mereka bersikap terlalu melindungi.
C.     Mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri.
D.    Mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif.
E.     Mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri.
F.      Selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
3.      Gaya Kepemimpinan Karismatis
Kepemimpinan kharismatik (charismatic leadership): Kharisma diartikan “keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya” atau atribut kepemimpinan yang didasarkan atas kualitas kepribadian individu.
Pemimpin kharismatik menampilkan ciri-ciri sebagai berikut:
A.      Memiliki visi yang amat kuat atau kesadaran tujuan yang jelas.
B.      Mengkomunikasikan visi itu secara efektif.
C.      Mendemontrasikan konsistensi dan fokus.
D.      Mengetahui kekuatan-kekuatan sendiri dan memanfaatkannya.
4.       Kepemimpinan Gaya Otokratis
Tipe pemimpin Otokratis memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
A.    Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
B.     Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
C.     Menganggap bawahan sebagai alat semata- mata
D.    Tidak mau menerima kritik, saran, dan pendapat
E.     Terlalu bergantung kepada kekuasaan formalnya
F.      Dalam tindakan penggerakannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan punitif (bersifat menghukum)
    5.      Kepemimpinan Gaya Militeristis
Gaya Militeristis memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
    A.    Sering mempergunakan sistem perintah dalam menggerakkan bawahannya
    B.     Senang bergantung pada pangkat dan jabatan dalam menggerakkan bawahannya
    C.     Senang kepada formalitas yang berlebih- lebihanMenuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
    D.    Sukar menerima kritikkan dari bawahan
E.     Menggemari upacara- upacara untuk berbagai acara dan keadaan.
Gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh ayah saya adalah kepemimpinan gaya demokratis. Karena selalu meminta masukan-masukan dari ibu istri atau anak-anaknya, untuk memutuskan sesuatu pun beliau selalu meminta nasehat dari keluaarga dan saudara. Gaya kepemimpinan tersebut menurut saya termasuk dalam kepemimpinan gay demokratis.

Pendidikan di kawasan perbatasan Indonesia


Anak-anak perbatasan indonesia yang lebih memilih untuk bersekolah di negara tetangga malaysia.
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan juga adalah hak bagi setiap warga negara indonesia baik tua ataupun muda. Sebuah hak atas pendidikan juga telah diakui oleh beberapa pemerintah. Pada tingkat global, Pasal 13 PBB 1966 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mengakui hak setiap orang atas pendidikan. Akan tetapi bagaimana jadinya kalau pendidikan terhambat oleh sarana dan prasarana sekolah seperti tidak adanya gedung untuk belajar, fasilitas penunjang yang sangat minim, pemerintah yang kurang tanggap, wilayah yang terpencil dan tidak adanya guru yang mengajar akibat berbagai alasan. Di Indonesia ternyata masih banyak daerah-daerah perbatasan yang tidak mendapatkan hak pendidikan sebagai mana mestinya, bahkan tak sedikit juga yang lebih memilih untuk bersekolah di negara tetangga malaysia. Pemerintah sudah seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap sekolah-sekolah di wilayah perbatasan karena pemerintah yang mempunyai wewenang lebih terhadap pendidikan. Dan di dukung juga oleh masyarakat di wilayah perbatasan, guru-guru yang mengajar di wilayah perbatasan dan pemerintah daerah.
Melihat di kota-kota besar pendidikan sudah mulai bisa berkembang dan para calon siswa bisa memilih sekolah yang mereka sukai dan mereka dambakan sejak kecil ataupun sejak lulus dari sekolah dasar. Sekolah di kota-kota besar sudah memenuhi kriteria yang bagus untuk tingkat pendidikan dilihat dari segi kualitas pendidikan, infrastruktur, sarana dan prasarana dan lain sebagainya. Melihat itu semua, marilah kita menengok kebelakang maksudnya menengok sekolah-sekolah yang masih sangat jauh tertinggal dari segi infrastruktur, kualitas pendidikan, sarana dan prasarana, sekolah-sekolah ini kebanyakan terletak di daerah perbatasan-perbatasan Indonesia, mendengarnya saja sudah sangat tidak layak apalagi melihat kenyataannya. Siswa dan orang tua serta para guru di sekolah-sekolah perbatasan pastilah sangat kecewa melihat buruk nya kualitas pendidikan di daerah mereka (daerah perbatasan). Para orang tua pun mencari cara agar anak nya bisa merasakan pendidikan dengan kualitas yang memadai dan kualitas yang bagus karena melihat sekolah-sekolah di daerah mereka sangatlah memprihatinkan. Pasti nya orang tua tidak mau anaknya memperoleh pendidikan yang kurang memadai. Disamping itu orang tua melihat sekolah-sekolah yang ada di negeri tetangga (Malaysia) kualitas pendidikan nya memadai, sarana dan prasarana lengkap, infrastruktur sekolah bagus dan modern, melihat itu semua para orang tua di daerah perbatasan memilih menyekolahkan anak nya di sekolah yang ada di negeri tetangga walaupun itu bukan Negara sendiri.

Banyak penyebab anak-anak lebih memilih untuk bersekolah di Malaysia
Penyebabnya mungkin sangat beragam dan banyak sekali diantaranya karena infrastruktur yang belum memadai, dari mulai bangunan yang sudah tua dan sudah tidak layak pakai dan sarana prasarana lainnya yang belum ada ataupun sudah lama rusak, sarana prasarana ataupun infrastruktur sangat berperan dalam dunia pendidikan terutama di sekolah karena dengan sarana dan prasarana yang lengkap mampu membuat suasana belajar menjadi menyenangkan dan juga terkendali selain itu infrastruktur juga menunjang agar sekolah itu bisa dikatakan layak di pakai untuk mendidik para siswa dan para siswa juga nyaman belajar di sekolah yang infrastruktur nya memadai atau layak pakai. Saat ini di Indonesia masih banyak sekali sekolah-sekolah yang sarana dan prasarana nya kurang memadai ataupun belum tersedia, dan juga infrastruktur yang harus segera di perbaiki apalagi di suatu wilayah perbatasan Indonesia tepat nya di provinsi Kalimantan Barat. Dinas Pendidikan Kalimantan Barat mencatat :
1.      Untuk kategori SD/MI
ada sekitar 4.816 gedung SD/MI terdiri 21.507 ruang belajar dengan kondisi baik 11.867 ruang, rusak berat 3.820 ruang, rusak sedang 3.151 ruang dan rusak ringan 2.627 ruang.
2.      Untuk kategori SMP/MTs
Gedung SMP/MTS sebanyak 1.507 sekolah terdiri 5.342 ruang belajar, dalam kondisi baik 3.907 ruang, rusak berat 452 ruang, sedang 457 ruang dan 526 rusak ringan. Kemudian SMA/MA sebanyak 493 gedung sekolah dengan total ruang belajar 2.253 ruang, terdiri 1.794 ruang belajar kondisi baik, 97 rusak berat, 117 rusak sedang dan 245 mengalami rusak ringan.

3.      Untuk kategori SMK
gedung SMK sebanyak 137 unit terdiri 1.006 ruang belajar, terdiri 758 kondisi baik, 52 ruang rusak berat, 114 ruang rusak sedang dan 85 ruang mengalami rusak ringan.
Selain itu dari segi infrastruktur, para orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke Malaysia karena jarak yang lebih dekat dan biaya yang murah jika dibandingkan dengan sekolah di negri sendiri. Biaya mahal adalah salah satu alasan yang menonjol, menurut bupati kapuas hulu masyarakat perbatasan menganggap bahwa program biaya gratis hanya ada di televisi saja tetapi tidak nyata di lapangan. Sekolah gratis hanya untuk kota-kota besar namun tidak untuk masyarakat perbatasan. Kurang nya perhatian dari pemerintah pusat terhadap sekolah-sekolah yang ada di wilayah perbatasan membuat para masyarakat dan anak-anak perbatasan sudah tidak percaya lagi dengan sekolah-sekolah yang ada di negeri sendiri akibat nya mereka memilih untuk sekolah di negeri tetangga, pemerintah pusat entah kemana melihat sekolah-sekolah yang sudah mulai rapuh dan akan ditinggalkan para siswa nya.
Sekolah-sekolah yang berada di wilayah perbatasan umumnya luput dari pandangan-pandangan pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat. Melihat sekolah-sekolah yang berada di wilayah perbatasan kondisinya sangatlah kurang diperhatikan, akibatnya anak-anak yang tinggal di wilayah perbatasan enggan untuk sekolah di negera sendiri karena sekolah-sekolah yang ada di daerah sendiri kondisi sangat tidak layak untuk digunakan sebagai sarana pendidikan untuk anak-anak. Akibatnya lagi anak-anak enggan untuk melanjutkan pendidikan karena letak sekolah yang jauh, jarak tempuh nya berkilo-kilometer dan itu harus ditempuh jalan kaki karena tidak ada kendaraan umum dan medan yang dilalui nya pun sulit, karena jalan nya yang setapak dan masih bentuk tanah, setiap hari anak-anak di wilayah perbatasan harus menempuh jarak yang jauh untuk sekolah terkadang jalannya saja membutuhkan waktu yang berjam-jam bandingkan dengan sekolah-sekolah yang ada di kota-kota ditempuh dengan hanya hitungan menit itu juga bisa menggunakan kendaraan sendiri ataupun kendaraan umum.

Kesimpulan
Untuk memperbaiki pendidikan disuatu wilayah khususnya di wilayah perbatasan harus ada kesadaran dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah dan di dukung oleh masyarakat dan anak-anak yang ingin mengenyam pendidikan. Karena dengan begitu, pendidikan di wilayah perbatasan bisa lebih berkembang dan bukan tidak mungkin bisa maju dan bersaing dengan pendidikan yang ada di wilayah perkotaan bahkan Internasional.
 
Terima kasih :D